Rabu, 29 April 2020

BUdaya Organisasi



BUDAYA PEMBERDAYAAN ORGANISASI

Business partners teamwork or friendship concept. Multi-ethnic diverse group of colleagues join hands together. Creative team, coworkers, or college students in project meeting at modern office


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Bismillahirrahmanirrahim

  1. Mari membaca Doa sebelum kita memulai perkuliahan;
  2. Silahkan dipahami materi perkuliahan berikut ini;
  3. silahkan tulis nama anda (absen) beserta NIM di Kolom Komentar Blog ini.
  4. UTS kita lakukan pekan depan.
  5. Selamat Belajar.


BUDAYA PEMBERDAYAAN ORGANISASI

Pemberdayaan (empowerment) diartikan sebagai upaya memberikan otonomi, wewenang, dan kepercayaan kepada setiap individu dalam suatu organisasi, serta mendorong mereka untuk kreatif agar dapat menyelesaikan tugasnya sebaik mungkin. Di sisi lain Paul (1987) dalam Prijono dan Pranarka (1996) mengatakan bahwa pemberdayaan berarti pembagian kekuasaan yang adil sehingga meningkatkan kesadaran politis dan kekuasaan pada kelompok yang lemah serta memperbesar pengaruh mereka terhadap proses dan hasil - hasil pembangunan, sedangkan konsep pemberdayaan menurut Friedman (1992) dalam hal ini pembangunan alternatif menekankan keutamaan politik melalui otonomi pengambilan keputusan untuk melindungi kepentingan rakyat yang berlandaskan pada sumberdaya pribadi, langsung melalui partisipasi, demokrasi dan pembelajaran sosial melalui pengamatan langsung.
Jika dilihat dari proses operasionalisasinya, maka ide pemberdayaan memiliki dua kecenderungan, antara lain:
1.    Kecenderungan primer, yaitu kecenderungan proses yang memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan (power) kepada masyarakat atau individu menjadi lebih berdaya. Proses ini dapat dilengkapi pula dengan upaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi,  
2.  Kecenderungan sekunder, yaitu kecenderungan yang menekankan pada proses memberikan stimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog.
Dua kecenderungan tersebut seolah berseberangan, namun seringkali untuk mewujudkan kecenderungan primer harus melalui kecenderungan sekunder terlebih dahulu (Sumodiningrat, Gunawan, 2002) . Pemberdayaan organisasi merupakan suatu sistem yang memiliki berbagai komponen yang saling berkaitan dan mempengaruhi antara komponen satu dengan komponen yang lainnya untuk menciptakan suatu output. Sistem dapat dianalisis sehubungan dengan input – output. Input dianggap sebagai sebab berinteraksi guna menghasilkan output. Pemberdayaan organisasi erat kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat yang merupakan sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai - nilai sosial.
Dalam upaya memberdayakan masyarakat dapat dilihat dari tiga sisi, yaitu (Sumodiningrat, Gunawan, 2002) ;
1.      menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Disini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Artinya, tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya, karena jika demikian akan sudah punah. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memotivasikan, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya.
2.      memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat. Dalam rangka ini diperlukan langkah - langkah lebih positif, selain dari hanya menciptakan iklim dan suasana. Perkuatan ini meliputi langkah - langkah nyata, dan menyangkut penyediaan berbagai masukan, serta pembukaan akses ke dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat menjadi berdaya. Pemberdayaan bukan hanya meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata - pranatanya.
3.      memberdayakan mengandung pula arti melindungi. Dalam proses pemberdayaan, harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah, oleh karena kekurangberdayaan dalam menghadapi yang kuat.
Dalam hal ini pemberdayaan, dalam segala bentuknya, berkembang pelan dari semua ide ini. Meskipun demikian, dalam 1980-an trend-trend di dunia bisnis mulai menegaskan pentingnya melakukan pendelegasian secara lebih luas dan mendelegasikan pekerjaan yng lebih bernilai. Telah muncul kebutuhan untuk:
1.     Membuat organisasi-organisasi lebih tanggap terhadap pasar.
2.   Men-delayer(memangkas tingkat-tingkat struktural) organisasi-organisasi untuk menjadikan mereka lebih responsif dan cost effective.
3.    Mengusahakan agar karyawan-karyawan dari berbagai disiplin berkolaborasi dengan supervisi yang minimal dengan jalan berkomunikasi secara horizontal. Bukannya secara vertikal hierarki
4.  Mengusahakan agar para CEO dan manajemen puncak, melangkah surut dan melakukan pekerjaan yang lebih bersifat strategis
5. Menyadap semua sumber-sumber yang bisa membantu mencapai dan meningkatkan competitiveness
6.  Memenuhi harapan-harapan yang lebih tinggi dari angkatan kerja yang pendidikannya semakin membaik.
Michael Osbaldeston, menganggap pemberdayaan telah menjadi begitu penting akhir-akhir ini:
1.      Kecepatan perubahan yang semakin tinggi, turbulensi lingkungan, cepatnya respon persaingan dan akselerasi permintaan-permintaan pelanggan menuntut kecepatan dan fleksibilitas tanggapan yang tidak sudah tidak cocok dengan cara kerja organisasi dengan model kontrol dan komando gaya lama itu.
2. Organisasi-organisasi sendiri tengah berubah. Akibat dari downsizing(perampingan), delayering(pemangkasan hierarki struktural), dan desentralisasi berarti bahwa metode-metode kuno pencapaian koordinasi dan kontrol tidak lagi sesuai. Upaya mencapai kinerja dalam situasi dan kondisi baru ini menuntut agar staff mengemban tanggung jawab yang jauh lebih besar.
3.      Organisasi-organisasi menuntut kerja yang lebih lintas fungsi(cross functional), kerja sama lebih padu di antara bidang-bidang, integrasi lebih baik dalam proses-proses jika organisasi yang bersangkutan ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Kerja sama seperti itu bisa  dicapai lewat pemberdayaan.
4.      Bakat manajerial yang benar-benar bagus semakin dipandang langka dan mahal. Menggunakannya untuk supervisi langsung terhadap staff yang mampu mengelola diri sendiri justru menambah kesulitan-keslitan yang sudah ada. Di pihak lain, pemberdayaan memungkinkan bakat manajerial untuk lebih difokuskan pada tantangan-tantangan eksternal dan bukan pada problem solving internal.
5.      Pemberdayaan bisa mengungkapkan sumber-sumber bakat manajerial, yang dulunya tidak dikenali, dengan menciptakan situasi dan kondisi dimana bakat bisa tumbuh subur.
Staff tidak lagi disiapkan untuk menerima sistem-sistem kontrol dan komando yang lama tersebut. Semakin luasnya ketersediaan pendidikan, penekanan lebih besar pada pengembangan sepanjang hidup, dan tujuan kepastian keamanan kerja dan peningkatan yang mantap telah menyumbang pada situasi di mana pekerjaan dinilai berdasarkan kesempatan-kesempatan pengembangan yang ditawarkan, bukan sebagai pekerjaan itu sendiri. Organisasi-organisasi yang gagal memenuhi aspirasi-aspirasi ini tidak akan memperoleh kinerja yang mereka tuntut dan staf terbaik mereka akan terus-menerus dibuat tak berdaya.
Oleh karena itu, perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah amat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat. Melindungi tidak berarti mengisolasi atau menutupi dari interaksi, karena hal itu justru akan mengerdilkan yang kecil dan menglunglaikan yang lemah. Melindungi harus dilihat sebagai upaya untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah. Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi makin tergantung pada berbagai program pemberian. Karena, pada dasarnya setiap apa yang dinikmati harus dihasilkan atas usaha sendiri. Dengan demikian tujuan akhirnya adalah memandirikan masyarakat, memampukan, dan membangun kemampuan untuk memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara berkesinambungan.
Sebagai makhluk sosial, manusia (masyarakat) senantiasa diharapkan saling berhubungan baik terhadap sesamanya, memiliki rasa kebersamaan,  hidup  tolong  menolong, saling bekerja sama, serta tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain. Begitu pula halnya dalam melaksanakan kehidupan dan pembangunan bangsanya manusia dituntut untuk selalu berpartisipasi. Kaitannya dengan pembangunan ekonomi dan peran partisipasi masyarakat sangatlah penting dalam pembangunan ekonomi, mengingat masyarakat setempatlah yang lebih mengetahui berbagai permasalahan dan potensi sumberdaya yang ada sehingga memudahkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ekonomi itu sendiri, dengan adanya peran pertisipasi masyarakat maka hasil dari pembangunan ekonomi yang dilakukan nantinya diharapkan dapat sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari masyarakat.


Selamat Belajar....

1 komentar:

Materi manajemen strategi_8A_28042021

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARKATUHU Berikut materi kuliah kita hari ini ya. silahkan di fahami materi kita hari ini silahkan tulis na...