BUDAYA PEMBERDAYAAN ORGANISASI

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Bismillahirrahmanirrahim
- Mari membaca Doa sebelum kita memulai perkuliahan;
- Silahkan dipahami materi perkuliahan berikut ini;
- silahkan tulis nama anda (absen) beserta NIM di Kolom Komentar Blog ini.
- UTS kita lakukan pekan depan.
- Selamat Belajar.
BUDAYA PEMBERDAYAAN ORGANISASI
Pemberdayaan
(empowerment) diartikan sebagai upaya memberikan otonomi, wewenang, dan
kepercayaan kepada setiap individu dalam suatu organisasi, serta mendorong
mereka untuk kreatif agar dapat menyelesaikan tugasnya sebaik mungkin. Di sisi
lain Paul (1987) dalam Prijono dan Pranarka (1996) mengatakan
bahwa pemberdayaan berarti pembagian kekuasaan yang adil sehingga meningkatkan
kesadaran politis dan kekuasaan pada kelompok yang lemah serta memperbesar
pengaruh mereka terhadap proses dan hasil - hasil pembangunan, sedangkan konsep
pemberdayaan menurut Friedman (1992)
dalam hal ini pembangunan alternatif menekankan keutamaan politik melalui
otonomi pengambilan keputusan untuk melindungi kepentingan rakyat yang
berlandaskan pada sumberdaya pribadi, langsung melalui partisipasi, demokrasi
dan pembelajaran sosial melalui pengamatan langsung.
Jika dilihat dari
proses operasionalisasinya, maka ide pemberdayaan memiliki dua kecenderungan,
antara lain:
1. Kecenderungan primer, yaitu
kecenderungan proses yang memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan,
kekuatan, atau kemampuan (power) kepada masyarakat atau individu menjadi lebih
berdaya. Proses ini dapat dilengkapi pula dengan upaya membangun aset material
guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi,
2. Kecenderungan sekunder, yaitu
kecenderungan yang menekankan pada proses memberikan stimulasi, mendorong atau
memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan
apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog.
Dua kecenderungan
tersebut seolah berseberangan, namun seringkali untuk mewujudkan kecenderungan
primer harus melalui kecenderungan sekunder terlebih dahulu (Sumodiningrat, Gunawan, 2002) . Pemberdayaan organisasi
merupakan suatu sistem yang memiliki berbagai komponen yang saling berkaitan
dan mempengaruhi antara komponen satu dengan komponen yang lainnya untuk
menciptakan suatu output. Sistem dapat dianalisis sehubungan dengan input –
output. Input dianggap sebagai sebab berinteraksi guna menghasilkan output.
Pemberdayaan organisasi erat kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat yang
merupakan sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai - nilai
sosial.
Dalam upaya
memberdayakan masyarakat dapat dilihat dari tiga sisi, yaitu (Sumodiningrat, Gunawan, 2002) ;
1.
menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi
masyarakat berkembang. Disini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap
manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Artinya,
tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya, karena jika demikian akan
sudah punah. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan
mendorong, memotivasikan, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang
dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya.
2.
memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat. Dalam
rangka ini diperlukan langkah - langkah lebih positif, selain dari hanya
menciptakan iklim dan suasana. Perkuatan ini meliputi langkah - langkah nyata,
dan menyangkut penyediaan berbagai masukan, serta pembukaan akses ke dalam
berbagai peluang yang akan membuat masyarakat menjadi berdaya. Pemberdayaan
bukan hanya meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranata
- pranatanya.
3.
memberdayakan mengandung pula arti melindungi. Dalam proses
pemberdayaan, harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah, oleh karena kekurangberdayaan dalam
menghadapi yang kuat.
Dalam hal
ini pemberdayaan,
dalam segala bentuknya, berkembang pelan dari semua ide ini. Meskipun demikian,
dalam 1980-an trend-trend di dunia bisnis mulai menegaskan pentingnya melakukan
pendelegasian secara lebih luas dan mendelegasikan pekerjaan yng lebih
bernilai. Telah muncul kebutuhan untuk:
1.
Membuat organisasi-organisasi lebih tanggap terhadap pasar.
2. Men-delayer(memangkas tingkat-tingkat struktural)
organisasi-organisasi untuk menjadikan mereka lebih responsif dan cost
effective.
3. Mengusahakan agar karyawan-karyawan dari berbagai disiplin berkolaborasi
dengan supervisi yang minimal dengan jalan berkomunikasi secara horizontal.
Bukannya secara vertikal hierarki
4. Mengusahakan agar para
CEO dan manajemen puncak, melangkah surut dan melakukan pekerjaan yang lebih
bersifat strategis
5. Menyadap semua
sumber-sumber yang bisa membantu mencapai dan meningkatkan competitiveness
6. Memenuhi harapan-harapan
yang lebih tinggi dari angkatan kerja yang pendidikannya semakin membaik.
Michael Osbaldeston, menganggap
pemberdayaan telah menjadi begitu penting akhir-akhir ini:
1. Kecepatan perubahan yang semakin tinggi, turbulensi lingkungan, cepatnya
respon persaingan dan akselerasi permintaan-permintaan pelanggan menuntut
kecepatan dan fleksibilitas tanggapan yang tidak sudah tidak cocok dengan cara
kerja organisasi dengan model kontrol dan komando gaya lama itu.
2. Organisasi-organisasi sendiri tengah berubah. Akibat dari downsizing(perampingan), delayering(pemangkasan
hierarki struktural), dan desentralisasi berarti bahwa metode-metode kuno
pencapaian koordinasi dan kontrol tidak lagi sesuai. Upaya mencapai kinerja
dalam situasi dan kondisi baru ini menuntut agar staff mengemban tanggung jawab
yang jauh lebih besar.
3. Organisasi-organisasi menuntut kerja
yang lebih lintas fungsi(cross functional), kerja sama lebih padu di
antara bidang-bidang, integrasi lebih baik dalam proses-proses jika organisasi
yang bersangkutan ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Kerja sama
seperti itu bisa dicapai lewat pemberdayaan.
4. Bakat manajerial yang benar-benar bagus
semakin dipandang langka dan mahal. Menggunakannya untuk supervisi langsung
terhadap staff yang mampu mengelola diri sendiri justru menambah
kesulitan-keslitan yang sudah ada. Di pihak lain, pemberdayaan memungkinkan
bakat manajerial untuk lebih difokuskan pada tantangan-tantangan eksternal dan
bukan pada problem solving internal.
5. Pemberdayaan bisa mengungkapkan
sumber-sumber bakat manajerial, yang dulunya tidak dikenali, dengan menciptakan
situasi dan kondisi dimana bakat bisa tumbuh subur.
Staff tidak lagi disiapkan untuk menerima
sistem-sistem kontrol dan komando yang lama tersebut. Semakin luasnya ketersediaan pendidikan, penekanan lebih besar pada
pengembangan sepanjang hidup, dan tujuan kepastian keamanan kerja dan
peningkatan yang mantap telah menyumbang pada situasi di mana pekerjaan dinilai
berdasarkan kesempatan-kesempatan pengembangan yang ditawarkan, bukan sebagai
pekerjaan itu sendiri. Organisasi-organisasi yang gagal memenuhi
aspirasi-aspirasi ini tidak akan memperoleh kinerja yang mereka tuntut dan staf
terbaik mereka akan terus-menerus dibuat tak berdaya.
Oleh karena itu,
perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah amat mendasar sifatnya dalam
konsep pemberdayaan masyarakat. Melindungi tidak berarti mengisolasi atau
menutupi dari interaksi, karena hal itu justru akan mengerdilkan yang kecil dan
menglunglaikan yang lemah. Melindungi harus dilihat sebagai upaya untuk
mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat
atas yang lemah. Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi makin
tergantung pada berbagai program pemberian. Karena, pada dasarnya setiap apa
yang dinikmati harus dihasilkan atas usaha sendiri. Dengan demikian tujuan
akhirnya adalah memandirikan masyarakat, memampukan, dan membangun kemampuan
untuk memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara berkesinambungan.
Sebagai makhluk
sosial, manusia (masyarakat) senantiasa diharapkan saling berhubungan baik
terhadap sesamanya, memiliki rasa kebersamaan,
hidup tolong menolong, saling bekerja sama, serta tidak
melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain. Begitu pula halnya dalam
melaksanakan kehidupan dan pembangunan bangsanya manusia dituntut untuk selalu berpartisipasi. Kaitannya dengan pembangunan
ekonomi dan peran partisipasi masyarakat sangatlah penting dalam pembangunan
ekonomi, mengingat masyarakat setempatlah yang lebih mengetahui berbagai
permasalahan dan potensi sumberdaya yang ada sehingga memudahkan dalam proses
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ekonomi itu sendiri, dengan adanya
peran pertisipasi masyarakat maka hasil dari pembangunan ekonomi yang dilakukan
nantinya diharapkan dapat sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari masyarakat.
Selamat Belajar....
Nama: Reza Meinando
BalasHapusNim: 0104173202